Boardcast Renungan Harian | Paroki Pulo Mas | #SatukanHati | St. Bonaventura
ziarah mencari tuhan
Rabu, 1 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Raya Semua Orang Kudus (P)
Why. 7:2-4,9-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6;
1 Yoh.3:1-3; Mat. 5:1-12a.
Sekelompok ibu, kemarin siang datang berdoa di depan patung
Gembala Baik Gereja Pulo Mas. Selesai berdoa di situ, mereka melanjutkan doa di
Gua Maria. Tidak cukup, mereka minta ijin masuk berdoa sebentar di dalam
gereja. Rupanya mereka adalah para orang tua yang anaknya sekolah di sebuah
Sekolah Swasta di Jakarta Pusat. Mereka ziarah 9 gereja, dengan membawa ujud
keberhasilan anaknya.
Beragam kekhawatiran menyelimuti para orang tua, entah
khawatir anaknya tidak lulus ujian, keliru pergaulan, tidak naik kelas dll.
Khawatir adalah manusiawi, maka Yesus pernah mengatakan carilah dahulu Kerajaan
Allah maka segalanya akn ditambahkan (Mat 6:33). Sabda Bahagia menjadi kontra
kekhawatiran manusia, "berbahagialah yang berdukacita karena mereka akan
dihibur"(Mat 5:4). Yesus tidak sekedar membesarkan hati manusia. Kerap,
hidup kita terlalu dipenuhi dengan pikiran negatif sehingga sulit melihat
kebesaran Allah.
Lalu?
Kita merayakan Hari Raya Wajib, Hari Raya semua orang kudus. kekhawatiran manusia manusia dilenyapkan karena memiliki tujuan hidup dalam kekudusan. Yang lebih menggembirakan, Kerajaan Allah sudah hadir saat ini. Kita berjalan dalam iman persekutuan para kudus. Hidup manusia di dunia ditemani dan dibimbing oleh mereka yang telah memiliki tempat istimewa di hadapan Allah.
Selamat Hari Raya Para Kudus
SonyPr
Kamis, 2 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
HR Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman (U/T)
2Mak.12:43-46; Mzm.143:1-2,5-6,7ab,8ab,10;
1Kor.15:20-24a,25-28; Yoh. 6:37-40.
Kalimat lengkapnya, "pada waktunya, kita ini hanyalah
foto.... ". Ungkapan itu muncul ketika kami bersama karyawan merapikan
foto-foto di panti imam gereja untuk perayaan hari ini. Mereka yang wajahnya
terekam di dalam bingkai foto, adalah pribadi yang pernah hidup bersama dengan
kita. Tuhan memanggil mereka beberapa
waktu yang lalu. Saat ini, mereka sudah tidak hidup dalam dunia bersama kita.
Pada waktunya kita akan sama seperti mereka. Kehadiran fisik kita berubah
menjadi kehadiran di dalam foto yang terus didoakan. Kematian tetap tidak bisa
kita hindarkan.
Dalam kesadaran akan kematian, tersingkap makna kehidupan. Kematian dan memberi makna akan kehidupan. Hidup dan kematian adalah saling mengisi. Kematian tidak datang untuk menghadirkan kecemasan. Ia datang untuk memberikan kepedulian kepada kehidupan. Manusia menjalani kehidupan ini sebagai persiapannya menghadapi kematian menuju kepada kehidupan kekal. Injil Yesus hari ini pun menjadi pengharapan bagi kita, "semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu ... dan tidak akan kubuang"(Yoh 6:37). Allah tidak akan membuang kehidupan yang menjadi ciptaanNya. Sebaliknya, semua mahluk akan dibangkitkan dan beroleh hidup yang kekal (6:40).
Selamat mendoakan saudara saudari kita yang telah dipanggil Tuhan. Iman kita tidak berhenti kepada kematian melainkan “menantikan kebangkitan orang mati”(syahadat). Semoga jiwa jiwa orang beriman beristirahat dalam ketentraman karena kerahiman Tuhan.
SonyPr
rela
Jumat, 3 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXX (H)
Rm.9:1-5; Mzm.147:12-13,14-15,19-20; Luk 14:1-6
Seorang teman imam mendapatkan penugasan baru di sebuah
paroki di Surabaya. Sebelumnya Ia bertugas di daerah Kalimantan. Guna
mempersiapkan kepindahannya, ia mulai membereskan barang pribadinya. Setelah
dirapikan, ternyata begitu banyak sekali kardus paketannya. Ia sadar tidak bisa
membawa semua. Ia pun membongkar kembali barang-barangnya. Akhirnya ia
memutuskan, sejumlah buku dan barang lainnya ditinggalkan untuk umat di
Kalimantan.
Butuh kerelaan untuk melepas. Paulus yang merelakan dirinya
terkutuk dan terpisah dari Kristus untuk keselamatan bangsanya (9:1-3). Ia rela
berkorban apa saja bila hal itu dapat menyelamatkan mereka. Tetapi sangat
disayangkan, bahwa mereka yang ingin diselamatkan justru menyia-nyiakan.
tetapi, sekalipun gagal Paulus tetap menyayangi mereka.
Lalu?
Tidak ada kerelaan dan ketulusan hati yang berakhir sia-sia. Syukur atas kerinduan mendalam, yang mendorong kita memilki kerelaan dan pengorbanan untuk terus menjangkau mereka yang kita kasihi.
SonyPr
Sabtu, 4 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Pw S. Karolus Borromeus, Usk (P)
Rm.11:1-2a,11-12,25-29; Mzm. 94:12-13a, 14-15, 17-18;
Luk.14:1,7-11.
Begitulah pertanyaan beberapa umat di hari peringatan Arwah
Beriman kemarin di Gereja Pulo Mas. Mereka mencari foto kerabatnya yang
diletakkan bersama foto lainnya di sekitar panti imam. Ada juga yang merasa
keberatan bahwa foto kerabatnya tidak terlihat. Mereka meminta dipindahkan, ada
juga yang memindahkan sendiri. Ada pula yang merasa tidak rela kalau foto itu
diletakan di bawah, mereka maunya ada di atas dan terlihat. Foto bukan sekedar
gambar. Di dalam foto ada pribadi yang kita hormati.
Orang-orang di dalam perjamuan yang dihadiri Yesus berupaya
untuk menduduki tempat yang terhormat. Soal kehormatan, naluri dasar manusia
mendorong untuk dihormati. Semua ingin tampil di depan. Sayangnya, jalan Yesus
adalah perendahan diri. Mereka yang meninggikan diri akan direndahkan, yang
merendahkan diri akan ditinggikan (Luk 14:11).
Kita belajar, kita hanyalah sesama penumpang dalam kehidupan
ini. Masih adakah alasan untuk saling meninggikan diri?
SonyPr
life is beautifull
Minggu, 5 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
HARI MINGGU BIASA XXXI (H)
Mal. 1:14b-2:2b,8-10; Mzm.131:1,2-3; 1Tes.2:7b-9,13;
Mat. 23: 1-12.
Seorang bapak bersama dengan anaknya dibawa ke sebuah kamp
tahanan Tentara Nazi. Dalam suasana yang sanagt mencekam, si bapak tetap
berusaha menyembunyikan anakknya agara anaknya tidak terlihat oleh tentara
Nazi. Guna menghilangkan kegelisahan anaknya, Guido sang bapak mengatakan
kepada anaknya, bahwa mereka sedang
bermain. Pemenangnya adalah orang yang berhasil mengumpulkan 1000 point lebih
dahulu. Syarat lain, sang anak tidak boleh tertangkap ataupun menangis, karena
point mereka akan dikurangi. Anaknya pun setuju. Mereka menjalani kamp tahanan layaknya
permainan. Sang ayah pun meninggal karena tembakan, sang anak akhirnya
diselamatkan tank asing yang sebenarnya menyelamatkan mereka. Tetapi, lagi-lagi
anak itu tahunya mereka memenangkan permainan.
Itulah cuplikan film La Vita è Bella (1997). Sebuah film tentang kisah keluarga. Seorang
bapak yang berusaha terlihat baik di hadapan anaknya karena cintanya yang besar
meski kondisi terpuruk.
Orang Farisi dan Ahli Taurat sebagai pimpinan agama, mencoba
terlihat baik di hadapan jemaatnya. Sayangnya, yang mereka lakukan justru
membebankan orang lain. Mereka tidak mau menyentuh beban yang mereka lempar
(mat 23:3). Yang baik dilakukan dalam kepuraan ketulusan. Kesalehan menjadi
produk olahan penampilan (23:5). Di sinilah dibutuhhkan teladan yang utuh.
Contoh keteladanan ini dihadirkan seperti seorang ibu yang yang dengan ramah
mengasuh dan merawat anaknya (1 tim 2:7). Seoorang ibu mendampingi anak
sekaligus menjadi teladan kebaikan yang bernilai berharga.
Lalu?
Di mana hidupku di tengah sesama? Ketimbang meletakkan beban
yang berat bagi orang lain, kita terus berjuang menjadi teladan kasih untuk
sesama.
SonyPr
Senin, 6 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXXI (H)
Rm. 11:29-36; Mzm.69:30-31,33-34,36-37;
Luk.14:12-14.
Sebuah antrian besar terjadi di pintu masuk stasiun beberapa
tahun yang lalu. Ini adalah sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa. Rupanya
terjadi perubahan dalam sistem pertiketan kereta api. Semua penumpang
diwajibkan menggunakan tiket elektronik. Dengan demikian tidak ada lagi
penumpang kereta yang tidak membayar tiket. Saat itu banyak penumpang yang
protes, namun hari ini banyak orang yang merasakan kenyamanan transportasi ini.
Yesus menyentil kebiasaan masyarakat saat itu. Pola
perjamuan makan diubah. Yang diundang bukanlah orang-orang yang dikenal, dekat,
dan cocok saja. Tetapi, jika “engkau mengadakan perjamuan, undanglah
orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang
buta" (Luk 14:13). Hal ini pasti sangat mengejutkan. Kesan transaksional
dalam pergaulan dan pelayananlah yang rupanya ingin disingkirkan Yesus.
Pergaulan dan pelayanan para murid, harus memperlihatkan semangat keterbukaan.
Kita mencoba siap untuk segala perubahan yang mendukung
kemajuan kita. Hidup selalu berkembang, kebiasaan baik pun selalu dikembangkan
Tuhan di dalam hidup ini.
SonyPr
dalih
Selasa, 7 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXXI (H)
Rm. 12:5-16a; Mzm.131:1,2,3; Luk. 14:15-24.
Menjadi pengundang sebuah acara, bisa jadi gampang-gampang
susah. Hati merasa senang kalau acara dapat berjalan lancar, yang datang
banyak, undangan merasa puas. Sebaliknya Hati merasa jengkel jika tamu yang
datang sedikit, makanan banyak sisa dan ada banyak sekali masalah. Acara sudah
diinfokan di grup, setiap orang dihubungi (WA) satu persatu, tetapi pesan hanya
di"read" saja - diberi emoticon saja. Hati akan jengkel kalau
penyelenggara pun masih perlu memastikan kedatangan peserta.
Pengundang acara agaknya selalu berhadapan dengan situasi
serba salah. Kemarin Yesus memberi kritik tentang siapa yang sebaiknya diundang
dalam perjamuan (Luk.14:12-14.). Hari ini, yang diundang berdalih "minta
maaf" (Luk 14:18). Bisa jadi ia langsung berpikir, apakah salah waktunya?
tetapi tak mungkin ia menuruti semua orang. Tuan rumah rupanya tidak mau
acaranya sia-sia, semua sudah dipersiapkan (14:17). Semua orang yang ditemui
terpaksa diundang dan dipaksa datang supaya acara tetap berjalan. Undangan Tuhan,
rupanya tak seindah yang dipuji (Luk 14:15).
Lalu?
Mungkin begitulah kita, alih-alih memilih yang baik, kita
cenderung berdalih. Belas kasih minta maaf selalu menjadi "tameng" kita. Kita yang
mengiyakan, kita pula yang menggagalkan. Kita tahu yang baik, tetapi merasa tak
perlu memiliki kebaikan itu. Wajarlah jika tuan rumah akhirnya menyebut tak
seorang pun yang diundang, akan bisa menikmati jamuan (Luk 14:24).
SonyPr
Rabu, 8 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXXI (H)
Rm. 13:8-10; Mzm. 112:1-2,4-5,9
Luk.14:25-33.
Proyek mangkrak sudah menjadi sebuah kisah di negri ini.
Keadaan mangkrak ditandai dengan kehadiran tanaman liar di sekitar proyek yang
belum jadi, ketiadaan pekerja di sekitar nya, tiang-tiang pancang berdiri di
tengah jalan tanpa tujuan, papan seng penunjuk mulai kusam, hingga munculnya
bangunan semi permanen lainnya di sekitar proyek yang tidak berlanjut tersebut.
Akan selalu ada kisah dari ketidakberlanjutannya. Dana membengkak dan
berkurang, penipuan kerjasama dan lain sebagainya merupakan bagian dari kisah
tersebut.
“Orang itu mulai mendirikan tetapi tidak dapat
menyelesaikannya” (Luk 14:30) seolah menjadi ejekan terhadap orang yang hanya
dapat membangun. Perumpamaan diberikan Yesus di tengah sikap orang yang mendua
ketika mengikuti Yesus. Dalih dan alasan hubungan saudara yang dekat
dikeluarkan sebagai sarana menghindari perutusan (Luk 14:26). Kekhawatiran
terhadap proses yang akan dilalui adalah alasan sebenarnya yang disembunyikan.
Perutusan Yesus perlu dilengkapi dengan keyakinan iman agar kita dapat
menyelesaikannya dengan baik. Tantangan iman adalah keberanian untuk
menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Perjalanan proses kerap tidak sesuai dengan apa yang
dipikirkan. Di situlah kita membutuhkan kekuatan lain yang lebih dari sekedar
usaha kita. Perikop diselesaikan dengan “barangsiapa punya telinga hendaklah ia
mendengar” (Luk 14:35). Keberanian kita menyelesaikan tugas di hidup ini tidak
terlepas dari keberanian kita mendengar dia yang telah mengutus kita.
SonyPr
kandang tandang
Kamis, 9 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran (P)
Yeh.47:1-2,8-9,12; Mzm.46:2-3,5-6,8-9;
1Kor.3:9b-11,16-17;
Yoh. 2:13-22.
Sebuah pertandingan sepak bola dalam liga Champions
berlangsung dini hari tadi. Tim tamu di menit ke 3 sudah berhasil memasukkan
bola ke dalam gawang lawan, demikian juga gol ke dua, dua puluh lima menit
kemudian. Hingga akhir pertandingan, tim tuan rumah rupanya tidak menyerah.
Meski kebobolan dahulu, Tuan Rumah akhirnya berhasil memenangkan pertandingan.
Sistem kandang memungkinkan sebuah tim bermain di markas mereka. Tentu ini
sangat menguntungkan; ada kebanggaan bermain di rumah sendiri, situasi lapangan
sudah dikuasai, dan pastinya ada dukungan besar dari suporter. Keinginan untuk
menjaga nama baik tuan rumah menjadi semangat tersendiri.
Ketika Yesus datang ke Bait Allah, Ia begitu geram terhadap
orang-ornag yang datang ke sana. Mereka tidak memperlakukan Bait Allah sebagai
tempat kudus dengan layak; banyak pedagang dan penukar uang di sana (Yoh 2:14).
Yesus pun kemudian mengusir mereka semua. Saat itu para murid teringat akan apa
yang tertulis di dalam Kitab suci ""Cinta untuk rumah-Mu
menghanguskan Aku." (yoh 2:16//bdk mzm 69:10). Rumah adalah medan
perjumpaan sesama manusia. Bait Allah adalah rumah yang menjadi tempat perjumpaan
Allah dengan manusia. Kesadaran akan kekudusan sebuah rumah, membuat manusia
berjuang untuk menjaganya dengan baik. Kesadaran bahwa BAit Allah tempat
bersemayam Allah membuat Yesus bertindak manakala Allah tidak dihormati.
Lalu?
Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu
(1 Kor 3:17). Yang kudus ternyata bukan hanya banguannnya. Manusianya pun
kudus. Kalau kita pun kudus, sungguhkah kita menjaganya?
SonyPr
Senin, 27 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXXIV (H)
Dan. 1:1-6,8-20; MTDan. 3:52,52,54,55,56;
Luk.21:1-4.
Seorang calon baptis, dengan tenangnya menceritakan
pengalaman imannya saat wawancara. Ia bersyukur atas Tuhan yang selalu
melindunginya yang menjadi salah satu dasar panggilan kekatolikannya. Beberapa
kali ia mengalami peristiwa kekerasan di rumahnya, Tuhan selalu
menyelamatkannya. Saat ini ia tidak marah dan menjadi tertutup, sebaliknya Ia
merasa menjadi pribadi yang kuat dan terbuka. Ia memiliki banyak teman di
sekolah. Rasanya, ia pun menjadi inspirasi bagi teman-temannya.
Nebukadnezar memilih Daniel dan ketiga sahabatnya, Hanaya,
Azarya san Misael untuk dilatih dan dididik secara khusus. Keperawakan mereka
diharapkan dapat membantu di dalam pemerintahan kerjaan. Dalam perjalanan,
Daniel juga memilih hidup dengan cara unik untuk tidak menajiskan diri dengan
menolak makanan yang disediakan raja (Dan 1:8). Meski begitu, di akhir ujian,
Daniel dan sahabatnya tetap terbukti sebagai orang yang cakap dibanding orang
berilmu yang ada di kerajaan (Dan 1:20). Allah pun melengkapi Daniel dengan
hilmat dan pengetahuan. Walau dari luar suku kerajaan, Daniel dan sahabatnya
tetap memiliki kualitas karena Allah pun melengkapi hidup mereka dengan hikmat.
Yesus memilih janda miskin untuk menjadi inspirasi pewartaan
bagi banyak orang (Luk 21:1-4). Hari ini, Tuhan pun juga menggunakan hidup kita
untuk banyak hal.
SonyPr
kehancuran
Selasa, 28 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXXIV (H)
Dan. 2:31-45; MT Dan.3:57-61;
Luk. 21:5-11.
Perang memang mengerikan. Kehancuran kota dan peradaban akibat perang sering tidak
terelakkan. Kota bertajuk kota 1001 malam dalam 1 malam berubah menjadi angker
karena hujaman bom. Pusat kebudayaan lenyap, pusat ilmu pengetahuan mendadak
hilang, situs keagaaman akhirnya punah akibat perang. Yang sudah dibangun
terasa sia-sia.
Daniel menceritakan pembacaan atas mimpi yang dialami Raja
Nebukadnezar. Sebuah patung berkilauan menjadi lambang kerajaan, kekuasaan,
kekuatan dan kemuliaan, akan diberikan kepada Raja oleh Allah Semesta alam.
Tetapi akan muncul kerajaan lain yang akan menghancurkan kerajaan sang raja.
Pun Injil menceritakan Bait Allah yang dikagumi, pada waktunya akan hancur.
Kerajaan Nebukadnezar akan hancur, bangunan Bait Allah akan luluh lantah,
tetapi Kerajaan Allah tetap mulia.
Lalu?
Kehancuran, mungkin menjadi bagian dalam kehidupan manusia.
Kehadiran Allah tidak pernah hancur dalam peradaban kehidupan. Maka “hendaklah
engkau setia sampai mati …Allah menaruniakan kita mahkota kehidupan” (bdk. Why
2:10c).
SonyPr
Rabu, 29 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXXIV (H)
Dan. 5:1-6,13-14,16-17,23-28; MT Dan. 3:62-67;
Luk.21:12-19.
Sejarah mengajarkan manusia banyak hal. Tidak mampu belajar
sejarah, umumnya membawa manusia pada kejatuhan. Pelajaran sejarah atau
literatur sejarah yang kita miliki, bukanlah digunakan untuk sarana menghafal.
Sejarah membantu kita menemukan pola di dalam kehidupan manusia.
Belsyazar rupanya tidak mampu belajar dari kekeliruan
ayahnya. Ia bertindak kurang ajar kembali terhadap Bait Allah. Perlengkapan
Bait Allah digunakan untuk pesta pora. Padahal kesombongan Nebukadnezar,
ayahnya, telah membawa Nebukadnezar, ke tempat yang paling hina. Sebaliknya di
dalam Injil, Yesus mengajak para murid untuk peka terhadap situasi di
sekitarnya. Kesadaran akan situasi yang mengancam sebagai para murid, menjadi
sarana untuk mengembangkan keyakinan bahwa Allah terus melindungi mereka.
Apa yang bisa kita renungkan dari sejarah kehidupan kita?
Sekurangnya, dalam sejarah itu, selalu terlihat jejak Allah yang melindungi
kita.
SonyPr
Putus Longsor
Kamis, 30 November 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Pesta St. Andreas (M)
Rm. 10:9-18; Mzm.19:2-3,4-5;
Mat. 4:18-22.
Jalur Nabire, Papua Tengah, ke Dogiyai pedalaman, terputus
karena longsor di sekitar KM 113. Informasi itu kami dapat dari telpon seorang
umat yang kebetulan melintas. Ia sempat berjalan kali sejauh 13KM. Kami
mempercayai info tersebut meski belum mendapat gambaran longsor yang terjadi.
Tidak ada sinyal internet saat itu. Sampai akhirnya ada yang mengirimkan gambar
tentang kondisi jalan. Kami pun bisa melintas dua hari kemudian.
“Iman timbul dari pendengaran” (Rm 10:17) demikian Paulus
menyapa jemaat di Roma. Dalam konteks itu, Paulus mau menyampaikan bahwa
keselamatan adalah anugerah semata dan berdasar panggilanNya bukan karena
perbuatan. Panggilan Andreas terjadi, karena ia sungguh mendengarkan Yesus yang
memanggilnya “Mari ikutlah Aku…” (Mat 4:19). Dari pendengaran yang baik, ia
mengalami perubahan hidup.
Lalu?
Kita syukuri kemampuan mendengarkan dengan baik yang kita
miliki. Tidak cukup mendengarkan tetapi juga mampu melaksanakannya.
SonyPr