Boardcast Renungan Harian | Paroki Pulo Mas | #SatukanHati | St. Bonaventura
video challenge
Kamis, 19 Oktober 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXVIII (H)
Rm.3:21-30; Mzm.130:1-2,3-4b,4c-6; Luk. 11:47-54
Peninjauan ulang bisa juga menghasilkan pembenaran atas
keputusan yang telah dihasilkan. Keputusan terhadap kesalahan manusia adalah
jatuh dalam dosa. Namun berkat Yesus kristus, manusia diselamatkan. Meski
pernah salah, karena kasih Kristus, manusia tetap menjadi orang benar.
Sehingga, sebabnya Paulus menegaskan bahwa mereka yang diselamatkan tidak boleh
menyombongkan diri atas keselamatan yang diterima dari Allah (rm3:27). Bukan
karena perbuatan kita, manusia menjadi orang benar, melainkan karena iman
kepada Kristus.
Lalu?
Kita tidak selalu benar, namun saat menjadi benar bukan
berarti perlu menjadi sombong bak sedang di atas angin. Kita hanyalah orang
yang diselamatkan oleh kasih Tuhan.
SonyPr
Jumat, 20 Oktober 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXVIII (H)
Rm.4:1-8; Mzm.32:1-2,5,11; Luk. 12:1-7
Menyikapi konflik Palestina -Israel beberapa hari ini, Paus
Fransiskus menyerukan pesan perdamaian. Dalam doa angelus tanggal 8 Oktober
2023 lalu, Paus menyampaikan doa perdamaian bagi konflik yang sedang terjadi.
Perang tidak menghasilkan apapun. Perang adalah sikap yang tidak memperhitungkan manusia. Banyak manusia tidak
bersalah mengalami kematian akibat perang.
Semangat perang bertolak belakang dengan semangat kasih
Kristus. Manusia diperhitungkan sebagai yang berharga di hadapan Tuhan. “Kalian
lebih berharga daripada banyak burung pipit”( luk 12:7). Demi diri kita, Allah
mau memberikan nyawa dan wafat bagi kita.
Lalu?
Jalan Kristus adalah jalan perdamaian. “Akar dari konflik
adalah rasa tidak berterimakasih dan sikap serakah. Rasa tidak berterimakasih
menimbulkan kekerasan. Ucapan terimakasih sederhana membawa perdamaian.”(Paus
Fransiskus)
SonyPr
Museum
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Rm. 4:13,16-18; Mzm. 105:6-7,8-9,42-43; Luk.12:8-12.
Abraham memberi pengakuan terhadap Allah yang ia Imani. Pengakuan akan Allah itulah yang memberikannya dasar untuk berharap (kej 4;17-18). Pun halnya Yesus kepada para murid juga menyerukan hal serupa, ”Barangsiapa mengakui Aku di depan Anak Manusia, akan diakui pula oleh Anak Manusia di depan para Malaikat Allah”( Luk 12:8). Pengakuan yang dituntut pun menyangkut seluruh hidup. Pun kenyataannya, para murid jatuh dalam sikap penyangkalan.
Lalu?
Penyangkalan menjadi tantangan dan godaan dalam usaha pengakuan Yesus di dalam hidup kita. Balada penyangkalan masih lebih kuat ketimbang pengakuan akan eksistensi Allah dewasa ini. Bagaimana kita memperjuangkan pengakuan Allah dalam hidup kita?
SonyPr
Minggu, 22 Oktober 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Yes.45:1,4-6; Mzm.96:1,3,4-5,7-8,9-10ac; 1Tes.1:1-5b;
Lalu?
Selamat merayakan Minggu Misi dengan Hati berkobar, mata terbuka dan kaki yang sigap melangkah. Semoga apa yang kita bagi "membakar hati orang lain dengan sabda Allah, membuka mata orang lain kepada Yesus dalam Ekaristi, dan mengajak setiap orang untuk berjalan bersama di jalan perdamaian dan keselamatan yang telah dianugerahkan Allah dalam Kristus kepada seluruh umat manusia." (Paus Fransiskus)
takut tamak
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Rm. 4:20-25; MT.Luk.1:69-70,71-72,73-75;
Luk.12:13-21.
Kerentanan manusia adalah ketika ia jatuh pada ketamakan. Sifat ini menjadi diwaspadai karena hidup kita ini memerlukan harta benda yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Sifat tamak mendorong kita untuk memilki lebih dari apa yang dibutuhkan. Lebih parah lagi, ketamakan akan mendorong seseorang menumpuk apa yang mereka miliki tanpa tahu menggunakannya.
Seorang datang kepada Yesus, mengadukan kelakuan saudaranya (Luk 12:13). Ia meminta bantuan Yesus untuk menasihati saudaranya agar mau berbagi harta dengannya. Ia menganggap saudaranya tamak, haus untuk memiliki lebih banyak. Yesus sepertinya tidak malah ikut menegur saudaranya sesuai permintaan orang itu. Bisa jadi Ia tak mau terlibat lebih dalam permasalahan keluarganya. Yesus justru mengajak orang itu untuk memiliki sikap kewaspadaan. Sementara kita bekerja untuk mencukupi kebutuhan kita, kita pun harus menjadi kaya terhadap Allah dengan cara mencari dahulu Kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya (Luk 12:31).
Lalu?
Apakah saya juga seorang yang tamak? Mari kita selidiki dalam hati. Di tengah konstelasi masyarakat dan dunia yang tamak, kita berdoa agar tidak jatuh tersungkur ke dalamnya.
SonyPr
Selasa, 24 Oktober 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXIX (H)
Rm. 5:12,15b,17-19,20b-21; Mzm.40:7-8a,8b- 9,10,17;
Luk. 12:35-38.
Suatu ketika, di sebuah
paroki, bersama dengan sekelompok anak muda, kami hendak mengadakan
acara musik di halaman Gereja. Tempat kami belum memilki aula yang memadai.
Halaman yang luas menjadi sarana yang sangat menguntungkan. Panggung didirikan
di depan gereja, lengkap dengan perlengkapan lainnya. Di saat sedang
mempersiapkan acara, seorang teman bertanya, "kalau nanti malam malah
hujan bagaimana?". Saya pun sambil bergurau menjawab, "Ya sudah
siapkan saja, bawang merah dan cabai". Acara pun berjalan lacar cuaca
cerah. Namun saya terkejut, saat sedang membereskan tempat acara bersama
mereka, di sejumlah pot, saya menemukan cabai dan bawang yang ditusukkan di
pot. Gurauan saya rupanya ditangkap serius.
Pesan kewaspadaan diberikan Yesus kepada muridNya, " "Hendaklah
pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala" (luk 12:35). Masa
depan menjadi situasi tidak terduga. Oleh karena itu, para murid harus
mempersiapkan segalanya dengan baik. Kewaspadaan dalam siaga dilakukan para murid
dalam suasana bahagia (12:37). Untuk itulah dibutuhkan ketekunan, kesediaan dan
kerelaan sebagai sikap waspada di dalam mengelola kehidupan ini.
Lalu?
Semoga dalam keadaan apapun, hidup kita selalu bercahaya
memancarkan sinar ilahi.
SonyPr
ga ada apa-apa nih...
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Rm. 6:12-18; Mzm. 124:1-3,4-6,7-8;
Luk.12:39-48.
Rasanya senang sekali untuk seorang tuan rumah jika
tiba-tiba rumahnya kedatangan tamu dan ia punya sesuatu yang bisa disuguhkan
kepada tamunya. Sebaliknya ada kalanya, tuan rumah panik, jika ada tamu datang
tetapi tidak diberi suguhan apapun karena pas tidak ada. Meskipun, kadang kala
si tamu tidak ingin merepotkan keluarga. Sebuah keluarga diam-diam menyuruh
anaknya untuk pergi ke sebuah warung manakala saya datang ke rumah itu. Anaknya
yang polos, kembali lagi ke rumah lalu berteriak, "Bu warungnya tutup,
pesan Go Food saja ya.." Kedua orang tua itu pun hanya menahan senyum.
"Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana
yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk
memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?" (Luk 12:42). Yesus
memakai perumamaan ini untuk menggambarkan dua cara hidup murid yang sedang
menanti kedatangan Tuhan. Mereka bisa setia, taat dan berjaga dan atau kedua, cuek , acuh lebih percaya
kedatangan Tuhan akan ditunda. para murid diharapkan memiliki sikap sebagai
orang yang dipercaya dan terus mengembangkan kepercayaan itu dengan
bertanggungjawab.
Lalu?
Sebagai murid Kristus, Kita tampilkan diri sebagai pribadi
yang dapat dipercaya. Tetap menampilkan diri dalam pelayanan dan tanggung jawab
optimal sebagai bentuk berjaga.
SonyPr
Kamis, 26 Oktober 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXIX (H)
Rm. 6:19-23; Mzm.1:1-2,3,4,6; Luk. 12:49-53.
Karena sering terparkir di luar, sebuah mobil terlihat
kusam. Di musim kemarau ini, kekusaman itu semakin bertamabah. Debu-debu
berterbangan dan menempel di badan mobil. Halaman sekitar yang juga terlihat
kering, lagi-lagi menambah kusamnya mobil tersebut. Sang pemilik semakin enggan
membersihkan setiap hari, pasalnya setiap hari ia harus melewati jalanan proyek
yang sangat berdebu. Mobil yang terlihat mahal pun terlihat buruk karena saking
kotornya.
Hidup orang Kristen pengikut Kristus memiliki kecemerlangan
yang berbeda. Tetapi karena duka dan dosa, hidup manusia tidak lagi menampakkan
kecemerlangan (Rm 6:19). Syukurlah sekarang kita telah dimerdekakan; bukan lagi
hamba dosa melainkan hamba Allah yang membawa pada pengudusan. Manusia
dibebaskan dari maut (Rm 6:22).
Lalu?
Panggilan menjadi kudus membuat hidup manusia menjadi
sungguh cemerlang. Kita menjadi kudus dengan menghayati tanggung jawab hidup
dalam kasih dan mempersembahkan hidup dengan sukacita (Paus Fransiskus -
Gaudette et Exultate)
SonyPr
mendung tanpa hujan
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Rm.7:18-25a; Mzm.119:66,68,76,77,93,94;
Luk.12:54-59.
Ini bukanlah sekedar judul lagu (Denny Caknan). Sekalipun
maksudnya mirip "Mendung tanpo udan, Ketemu lan kelangan, Kabeh kui sing
diarani perjalanan,.... ". Lirik menjadi cerita tentang apa yang dilihat
ternyata berbeda dengan perkiraan maksudnya. Mendung saat ini bukan berarti
tanda akan turun hujan. Di sekitar gereja Pulo Mas beberapa hari ini memang
mendung, namun sampai malam ditunggu, hujan tak kunjung turun, cuaca pun tetap
panas. Herannya, di kawasan lain dekat Pulo Mas, hujan turun sangat deras.
Benarlah terasa "Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan".
Akan tetapi, bagaimanapun, tetap penting dalam kehidupan
sehari hari, sangat penting untuk memperhatikan tanda-tanda alam. "Apabila
kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang
hujan, dan hal itu memang terjadi" (Luk 12:54). Mengabaikan tanda alam,
sama dengan membangun celaka dalam kehidupan. "Rupa bumi dan langit kamu
tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?" (12:56).
Tidak cukup hanya melihat tanda alam dalam zaman, perlu juga seseorang
memutuskan sikap atas tanda yang dialaminya.
Lalu?
Ketidakberanian dalam pengambilan keputusan atas tanda yang
dialami, menghadirkan pergulatan besar di dalam kehidupan. Bak perjuangan
antara jahat dan baik dalam diri (Rm7;19). Mari perhatikan tanda yang Tuhan
beri dalam kehidupan kita, dan segera putuskan apa yang harus diperbuat.
SonyPr
Sabtu, 28 Oktober 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Pesta S. Simon dan Yudas, Ras (M)
Ef. 2:19-22; Mzm. 19:2-3,4-5; Luk. 6:12-19.
Hadirnya peristiwa sumpah pemuda tidak terlepas dari sebuah
kerinduan para pemuda Indonesia kala itu yang merindukan sebuah situasi
Indonesia yang damai. Kedamaian diperoleh lewat jalan persatuan. Pergerakan
yang dilakukan para pemuda saat itu mengumandangkan janji satu tanah air, satu
bangsa, dan satu bahasa. Dalam semangat persatuan, setiap pribadi adalah
berharga. Setiap pribadi sangat bernilai dalam peran yang dilakukan.
Pesta St. Simon dan Yudas ini, mengingatkan lagi akan
panggilan hidup kita. Kita dipanggil sebagai kawan sewarga (Ef 2:19). Dan
spesialnya, kita berasal dari golongan orang kudus dari keluarga Allah. Kristus
yang menjadi dasar - fondasi utamanya. Menakjubkan rasanya, sekecil apapun yang
kita lakukan sangat penting bagi pembangunan Jemaat Allah (Ef. 2:21).
Lalu?
Karena begitu berharga dan pentingnya setiap panggilan dan
karya kita di hadapan Allah, maka tak pantas kita meremehkan diri kita atau
orang lain. Kita juga mengenangkan semangat Sumpah Pemuda yang dirayakan hari
ini. Siapapun kita, kita juga turut ambil bagian dalam sejarah kemerdekaan
bangsa ini.
SonyPr
ter(ima) kasih
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
HARI MINGGU BIASA XXX (H)
Kel.22:21-27; Mzm.18:2-3a,3bc-4,47,51ab;
1Tes.1:5c-10; Mat. 22: 34-40.
"Surya bersinar, udara segar, terima kasih,
di tepi pantai, ombak berderai, terimakasih"
Lagu ini sering dinyanyikan dalam misa anak. Sekurangnya,
menjadi pengiring anak yang akan maju untuk mendapatkan berkat dari romo.
Dengan cara sederhana, mereka diajak merasakan kasih melalui berkat. Dengan
cara yang sama pula,mereka diajak bersyukur dan berterimakasih atas aneka
bentuk kasih yang Tuhan berikan.
Orang-orang Farisi bertanya tentang hukum yang terbesar dan
terutama. Nampaknya sebenarnya mereka sudah tahu. Kenyatannya, mereka bersikap
seolah tidak tahu. Ketidak-mautahuan ini semakin diperberat dengan emosi karena
"mereka mendengar bahwa Yesus telah membungkam orang-orang" (Mat
22:34). Kasih tidak mampu dilihat lagi. Benci pun mendominasi hati.
Lalu?
Saat mengikuti perayaan Ekaristi, seorang imam akan menyapa
kita sebagai saudara-saudari yang terkasih. Atau sebaliknya, saat menerima
sesuatu, sudahkah kita mengucapkan terimakasih? Karena sudah sering mendengar
dan mendapat, ungkapan kasih pun terasa biasa atau tidak perlu diucapkan.
Padahal, kasih Tuhan selalu luar biasa. Mari kita ingat, pemberian apa yang
belum kita ucapkan terima kasih?
SonyPr
Senin, 30 Oktober 2023
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXX (H)
Rm. 8:12-17; Mzm.68:2,4,6-7ab,20-21; Luk. 13:10-17.
Selesai makan, seorang pengunjung rumah makan meminta tusuk
gigi kepada pelayan setempat. Secuil serat daging, menyelip di antara giginya
yang berlubang. Selipan daging itu hanya kecil, namun membuatnya tidak nyaman.
Dengan sedikit gaya dorong mendongkrak, selilit itu pun terlepas. Ia pun
kembali merasa nyaman berbicara.
Delapan belas tahun seorang ibu mengalami sakit punggung.
Ini bukan sekedar selilit kecil yang menyelinap di rongga tulang punggung.
"Hai ibu, penyakitmu sudah sembuh" (Luk 13:12). Ibu itu pun merasakan
terbebaskan. Ia dapat berdiri tegak dan memuliakan Allah. Berbeda dengan kepala
rumah ibadat, ia justru measa gusar (13:14). Rupanya ia lebih senang menyimpan
selilit yang menjadi beban hidup orang lain.
Lalu?
Kita bersukacita, karena Tuhan membebaskan selilit kehidupan
kita. Semoga setiap kali merayakan ekaristi, kita dibebaskan oleh Tuhan.
SonyPr
mbok turah
Paroki Pulo Mas - St Bonaventura
Broadcast Renungan Harian
===================
Hari Biasa Pekan XXX (H)
Rm. 8:18-25; Mzm.126:1-2ab,2cd-3,4-5,6;
Luk. 13: 18-21.
Ia tinggal di kawasan lereng Gunung Merapi, Yogyakarta.
Duduk bersila dengan anggun di sebuah pendopo kecil. Wajahnya tenang, anggun
dan memancarkan ketenangan. Pancaran tatapan keibuan mengalir dari matanya. Ia
menyambut dengan senyum semua yang datang kepadanya. Mereka yang datang tidak
terbatas oleh sekat agama atau apapun. Semua disapa dan disambutnya. Mereka
yang datang berdoa dengan caranya masing-masing, bagaikan anak yang merindukan
dekapan seorang ibu. Mbok Turah menjadi ibu yang memiliki kelimpahan segalanya.
Dari kerinduan menghadirkan Bunda Maria di kawasan Omah
Petroek (Sleman, Yogyakarta), hadirlah Mbok Turah. Sebuah patung Maria dengan
sosok wanita bersahaja berpakaian kebaya. Ia menjadi gambaran ibu yang selalu
memberi tanpa berkesudahan (Turah = Berlimpah, berlebih (Jawa)). Bagi orang
katolik, Mbok Turah adalah ibu Maria. Orang-orang datang kepadanya untuk
bersembahyang dengan beragam ujub, mulai masalah keluarga, hubungan dengan
orang tua hingga meminta rejeki. Bahkan pernah ada cerita tentang seorang anak
yang berdamai dengan ibunya setelah berdoa di depan Mbok Turah.
Di akhir bulan Oktober yang kita rayakan sebagai bulan
rosario, pengalaman iman mbok Turah, diperlihatkan dalam bacaan hari ini. Allah
hadir sebagai pribadi yang berkelimpahan dalam memberikan berkatNya kepada
manusia. Setiap perkara mendapatkan jalan keluar bersama Allah (Mazmur
Tanggapan). Tuhan telah melakukan karya besar kepada manusia (Mazmur 126),
sehingga setiap manusia memperoleh keselamatan dalam pengharapan Tuhan (Roma
8:24). Kelimpahan itu tidak hanya dilihat dalam hal yang besar. Kerajaan Allah
bagaikan biji sesawi yang ditaburkan, tetapi ia lalu berkembang menjadi sumber
kehidupan bagi mahluk di sekitarnya. Maka jangan pernah meremehkan hal kecil
dan biasa di sekitar kita.
Lalu?
Maria menemani kita berjalan dalam hidup untuk mengalami
Allah yang sumber Turah, kelimpahan di
dalam hidup ini. Selamat mensyukuri kelimpahan Tuhan yang hadir dalam
pengalaman doa rosario di bulan ini.
SonyPr