Jadwal Misa

Sabtu Sore :  16.30 WIB

Minggu         :  06.30  |  08.30  |  16.30  | 18.30 WIB

Renungan Harian September 2023
"Perjalanan Jiwa menuju Tuhan"

Boardcast Renungan Harian  |  Paroki Pulo Mas  |  #SatukanHati  | St. Bonaventura

valid  licit

is-infant-baptism-valid

Senin, 4 September 2023

Paroki Pulo Mas - St Bonaventura

#Satukanhati #Menuju50Tahun

Broadcast Renungan Harian

===================

Hari Biasa Pekan XXII (H)

1Tes. 4:13-17a; Mzm. 96:1,3,4-5,11-12,13;

Luk. 4:16-30.

Ada dua kriteria dalam pelaksanaan Sakramen dan liturgi di dalam Gereja Katolik yaitu Valid dan Licit. Valid dipahami sebagai demi keabsahannya. Valid menyangkut syarat utama yang harus dipenuhi agar peristiwa sakramen dapat dinyatakan sah, sesuai dengan kaidah hukum dan ketentuan yang berlaku. Misalnya, validnya perayaan ekaristi jika dipimpin oleh seorang imam tertahbis. Demikian juga hosti dan anggur menjadi bahan yang wajib ada. Licit dipahami sebagai “demi kelayakannya, demi kepantasan dan kepatutan”. Misalnya seorang imam yang akan memimpin perayaan ekaristi perlu mempersiapkan diri dengan baik.

Licit mendukung valid. Dari situlah mengalir unsur yang ketiga yakni Fructosa; berbuah. Sakramen yang dilakukan secara licit dan valid akan menghasilkan buah bagi perkembangan iman. Berhadapan dengan kedatangan Tuhan, Paulus menasihatkan jemaat di Tesalonika agar mereka lebih bersungguh-sungguh mengusahakan hidup yang berkenan di hadapan Allah (1 Tes 4:1). Hidup yang layak sebagaimana Allah memanggil manusia kepada kekudusan. Buah dari kelayakan itu adalah manusia memiliki hidup yang berpengharapan (Bdk 1Tes 4:13).

Lalu?

Yang sah perlu, tetapi yang layak juga patut diusahakan. Kehidupan iman kita yang layak seperti apa yang patut kita jadikan teladan agar tetap berkenan di hadapan Allah?

 

SonyPr

temon

Selasa, 5 September 2023

Paroki Pulo Mas - St Bonaventura

#Satukanhati #46Tahun

Broadcast Renungan Harian

===================

Hari Biasa Pekan XXII (H)

1Tes. 5:1-6,9-11; Mzm.27:1,4,13-14;

Luk. 4:31-37.

Temon adalah nama seekor monyet yang dipelihara pemilik warung di puncak Gunung Lawu. Ketika rombongan kami datang di warung itu, si pemilik warung mengatakan bahwa ia tidak bisa melayani pembeli, karena temon sudah mengajak tidur. Pagi ketika kami bangun, terlihat si Temon sedang berada di pinggir perapian menghangatkan diri bersama pemilik warung. Saat dikeluarkan, ia diikat di sebuah tiang. Terlihat si Temon memberontak. Tetapi si pemilik langsung menegur dan Temon pun nurut diam. Kedekatan keduanya, membuat si Temon langsung tunduk saat ditegur.

Penampilan Yesus terlihat sungguh mengagumkan. Kata-katanya sangat memiliki kekuatan dan berwibawa. itu terjadi karena kedekatanNya dengan Allah. Mereka yang mendengar pengajaran Yesus begitu takjub. Pun saat ia memerintahkan setan, "Diam, keluarlah dari padanya!" (Luk 4:35), Setan pun langsung tunduk pada Yesus. Kata-katanya membebaskan banyak orang.

Lalu?

Semua orang takjub sekaligus bertanya  Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar (4;36). Yesus menunjukkan kualitas hubungan dengan Allah yang terpancar dalam kehidupan, menjadi kekuatan terbesarNya. Iman kita bukan sekedar tertarik tetapi juga menjadi serupa dengan Dia.

 

SonyPr

Sahabat Yesus

berkabar baik

photo-praying-cute-child-in-a

Rabu, 6 September 2023

Paroki Pulo Mas - St Bonaventura

#Satukanhati #Menuju50Tahun

Broadcast Renungan Harian

===================

Hari Biasa Pekan XXII (H)

Kol. 1:1-8; Mzm.52:10,11; Luk.4:38-44.

Surat adalah sebuah tulisan yang dikirimkan kepada seseorang yang menjadi bukti tertulis atas hal-hal yang ingin atau telah disampaikan. Surat menjadi sebuah media komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada seseorang. Bahkan, dalam peran yang lain, surat menjadi duta penulisan. Kehadiran surat, mewakili instansi atau seseorang yang mengeluarkannya.

Surat Paulus kepada jemaat di Kolose ditulis ketika Paulus sedang berada di dalam penjara. Surat Paulus menjadi tulisan rohani yang menegaskan peran Yesus di dalam kehidupan manusia. Paulus sendiri menyadari bahwa ia tidak bisa mendampingi jemaatnya. Maka, ia lalu menulis surat dengan harapan jemaat dapat mengembangkan sikap iman. Meski di dalam penjara, Paulus terus mengucap syukur karena telah mendengar tentang iman jemaat dalam Kristus Yesus dan tentang kasih mereka (Kol 1:4). 

Lalu?

Mari saling berkabar baik hari ini.

 

SonyPr

bersyukur karena mendengar

Kamis, 7 September 2023

Paroki Pulo Mas - St Bonaventura

#Satukanhati #46Tahun

Broadcast Renungan Harian

===================

Hari Biasa Pekan XXII (H)

1Tes. 5:1-6,9-11; Mzm.27:1,4,13-14;

Luk. 4:31-37.


Perjalanan mendaki gunung selalu mengasyikkan tetapi sekaligus melelahkan. Cuaca yang yang tiba-tiba berubah dan tak menentu menjadi faktor yang sangat menantang. Ditambah lagi perjalanan mendaki dan menurun selama berjam-jam menjadi keseruan yang lain. Yang paling mengasyikkan tentu saja saat pulang. Semakin ke bawah, semakin mendekati titik keberangkatan, kita mulai mendengar suara keramaian kendaraan dan banyak orang. Di situlah ada harapan, artinya kita akan segera sampai tujuan kita.

Mendengarkan hal yang baik, akan mendatangkan syukur dan harapan. Inilah yang disampaikan oleh Paulus “Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu” (Kol 1:9). Berkat yang diterima oleh Jemaat Paulus mendorong rasa syukur yang besar dalam diri Paulus. Doa Paulus pun bukan memohon keuntungan pribadi bagi dirinya. Ia memohon kehendak dan wawasan besar tentang Allah. Dengan wawasan itu, ia berharap jemaatnya mampu mengenal kehendak Allah.

Lalu?

Paulus mengajarkan kita untuk mendengarkan dengan baik. Ia mengajak kita untuk mendengarkan berkat yang dihadirkan Allah dalam diri sesama. Dari Paulus pun kita belajar mendoakan orang lain agar hidup terus dalam pengharapan akan surga (5), mengalami keakraban Kristus (10) mengenali kasih Kristus, bersungguh-sungguh dan hidup tak bercela, dan dengan keinginan yang amat besar menantikan kedatangan Tuhan kembali.

 

SonyPr

Sahabat Yesus

mirip rupa

Baptism

Jumat, 8 September 2023

Paroki Pulo Mas - St Bonaventura

#Satukanhati #Menuju50Tahun

Broadcast Renungan Harian

===================

Pesta Kelahiran SP Maria (P)

Mi.5:1-4a atau Rm.8:28-30; Mzm.13 :6ab,6cd;

Mat. 1:1-16,18-23.

Seorang ibu yang baru saja memiliki anak, terlihat tampak kesal. Banyak orang menyukai anaknya. Menggemaskan, lucu, imut dll kata mereka. Semua yang baik disampaikan tentang anak itu. Hanya satu yang membuatnya kesal, tidak seorang pun yang mengatakan anak ini mirip ibunya. Karena tidak mau kalah, si ibu pun mengatakan, "suaranya mirip saya waktu kecil."

Pesta Kelahiran Santa Maria yang dirayakan gereja Katolik, bukan sekedar merayakan pesta ulang tahun. Ini adalah ungkapan iman kehadiran Bunda Maria di dalam karya keselamatan Allah. Perayaan ini berasal dari tradisi Gereja timur sejak abad 6 dan kemudian diterima di dalam Gereja Katolik Roma. Dalam diri Maria, Allah mengambil rupa seorang manusia. Injil Matius memaparkan silsilah kelahiran Yesus melalui Santa Maria. Kelahiran Yesus melalui Maria, merubah jalan kehidupan manusia. Allah hadir dalam sejarah hidup umat manusia.

Lalu?

Allah hadir dalam rupa manusia lewat pribadi Yesus. Hidup manusia dipanggil juga untuk serupa dalam kekudusan Allah.

 

SonyPr

Menjadi jauh

Sabtu, 9 September 2023

Paroki Pulo Mas - St Bonaventura

#Satukanhati #46Tahun

Broadcast Renungan Harian

===================

Hari Biasa Pekan XXII (H)

Kol. 1:21-23; Mzm. 54:3-4,6,8; Luk. 6:1-5.


Dua anak saling berteman sejak kecil. Mereka sungguh akrab dalam banyak hal. Keduanya dilihat “Soulmate”-an atau “bestie”-an oleh teman-temanya. Akan tetapi kedekatan mereka putus. Salah satu dari mereka merasa dicurangi. Salah satu dari anak itu merasa dikhianati dan dicurangi. Ia tidak diberi tahu bahwa telah mendapat tawaran bekerja di tempat lain. Persahabatan mereka pun bubar, terputus dalam permusuhan.

Banyak hal membuat persahabatan bubar, kedekatan menjadi jauh. Demikianlah dalam hubungan dengan Allah, manusia awalnya mengalami kedekatan yang mesra. Akan tetapi, kedekatan itu ternoda hingga muncullah permusuhan. Pikiran jahat meruntuhkan kedekatan yang sudah terbangun dan manusia hidup dalam permusuhan dengan Allah dan sesama. Baptisan yang menyucikan hancur karena dosa. Wafat dan kebangkitan Kristuslah yang mendamaikan manusia. Kekudusan manusia terbangun kembali. Maka Paulus mengingatkan “janganlah mau dijauhkan dari pengharapan Injil” (Kol 1:23).

Lalu?

Mari waspada terhadap sesuatu yang memisahkan kita dari cinta Kristus. Tetapi lebih dari itu semua, kita akan menang karena Allah yang terus mencintai kita (Rm 8:35, 37).

 

SonyPr

takwa

enggak enak ah..

Screenshot 2023-06-11 101405

Minggu, 10 September 2023

Paroki Pulo Mas - St Bonaventura

#Satukanhati #Menuju50Tahun

Broadcast Renungan Harian

===================

HARI MINGGU BIASA XXIII (H)

Yeh. 33:7-9; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm.13:8-10; Mat. 18: 15-20.

Tentang menegur karena ada kesalahan yang diketahui, kerap menjadi pergulatan kita, apalagi di dunia yang serba “enggak enakkan”. Sangat berbeda dengan beberapa peran yang fungsinya menegur jika terjadi sebuah pelanggaran, petugas keamanan misalnya, mau tidak mau mereka harus berani menegur.

Teguran itu pada dasarnya baik, tetapi tidak semua orang suka kalau sampai ditegur. Untuk itu, Injil memberikan tahapan dalam teguran. Dimulai dari mengajak bicara empat mata hingga menyampaikan soal kepada jemaat (mat 18:15-17). Di balik usaha untuk memberi teguran, terdapat usaha untuk terus berjuang dalam kerendahatian terlebih bagi mereka yang dipandang sulit. Sangatlah mungkin beragam nasihat dan cara tidak akan memberi hasil. Lalu apa yang harus dilakukan? Dalam hal ini, di konteks yang lain Paus Fransiskus beberapa kali menyerukan, bencilah perbuatannya bukan orangnya.

Lalu?

Bagian akhir injil ditutup dengan,” di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaku, Aku hadir di tengah -tengah mereka.”(Mat 18:20). Pengalaman pertemanan-persahabatan, diangkat Yesus sebagai pengalaman beriman. Keindahan persahabatan terletak dalam keberanian untuk menerima kembali mereka yang berbeda. Dalam persahabatan tidak boleh ada jalan buntu, termasuk soal teguran.

 

SonyPr

Melawan gak enak

Senin, 11 September 2023

Paroki Pulo Mas - St Bonaventura

#Satukanhati #46Tahun

Broadcast Renungan Harian

===================

Hari Biasa Pekan XXIII (H)

Kol.1. : 24-2:3; Mzm. 62:6-7,9; Luk. 6:6-11.


Melanjutkan rangkaian renungan hari minggu kemarin, Sikap “gak enakkan”menjadi tantangan besar dalam proses persahabatan. Tidak semua orang yang ditegur mau menerima dengan baik. Teguran Yohanes kepada Herodes berujung kepada kematian (Mat 14:1-12). Barisan sakit hati pun bisa muncul karena sebuah teguran. 

Paulus membahasakan pengalaman itu sebagai derita, namun ia bersukacita karena dilakukan dalam Kristus (Kol 1:24). Teguran Yesus kepada orang-orang Farisi juga menimbulkan rasa dendam dan kecewa. Mereka pun terus mengamat-amati kekurangan Yesus. Mereka terus mencari kesalahan yang dibuat yesus (Luk 6:7). Karena dasarnya adalah kebaikan, maka Yesus tidak takut mengembangkan warta tersebut.

Lalu?

Semangat kebaikan akan mendorong sikap gerakan “ulurkan tangan” (Luk 6:10). Semangat Kejahatan cenderung untuk melipat, menutup dan merapatkan kedua tangan. 

 

SonyPr

maxresdefault

tanda salib

the-cross

Kamis, 14 September 2023

Paroki Pulo Mas - St Bonaventura

#Satukanhati #Menuju50Tahun

Broadcast Renungan Harian

===================

Pesta Pemuliaan Salib Suci (M)

Bil.21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38;

Flp. 2:6-11; Yoh.3:13-17.

Salib adalah tanda. Sekurangnya kita memakai tanda itu sebelum memulai doa. Tanda itu menjadi identitas. Tanda itu juga sering dimintakan berkat, sebelum akhirnya dipajang, diletakkan di sebuah ruangan pun juga ditempel di dinding. Salib adalah tanda, namun bukan sembarang tanda. Persoalannya, (tanda) salib yang ditaruh di dalam sebuah ruangan, selanjutnya diapakan?

Dalam Pesta Salib Suci hari ini, keyakinan tentang salib sebagai tanda yang tidak biasa, menggugat untuk direfleksikan. Paulus menyebut salib sebagai tanda ketaatan Allah yang telah mengosongkan diri sebagai hamba dan mengambil rupa sebagai manusia (Flp 2:7). Allah melakukan itu, supaya manusia mendapatkan keselamatan (Yoh 3:17). Tindakan keselamatan ini, sudah diantisipasi sejak zaman Musa. Ketika Israel jatuh dalam dosa, Yahwe menyuruh Musa membuat ular tembaga dan diletakkan di atas sebuah tiang. Mereka yang memandang ular akan mendapat hidup. Namun Yesus mengatakan, “sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya  kepada-Nya beroleh hidup  yang kekal” (Yoh 3:17).

Lalu?

Rindukah kita memandang salib Tuhan?

 

SonyPr

Nasi menangis

Jumat, 15 September 2023

Paroki Pulo Mas - St Bonaventura

#Satukanhati #46Tahun

Broadcast Renungan Harian

===================

Pw SP Maria Berdukcita (P)

Ibr.5:7-9; Mzm.31:2-3a,3b-4,5-6,15-16,20; Yoh. 19:25-27.


Tentang ini, kita tidak tahu apakah ini mitos atau apa? Sekurangnya, saya masih mengalami ini diceritakan sewaktu kecil. Sebuah pengingat untuk menghabiskan makanan.Sebuah latihan untuk menghargai yang disediakan. Sebuah ajakan untuk memiliki empati terhadap mereka yang berkekurangan dan menderita. 

Peringatan Bunda Maria berdukacita diletakkan setelah pesta Salib Suci. Yesus sang Putra mengalami derita, Bunda-Nya pun turut menderita. Penderitaan menjjadi bernilai. Tujuh dukacita yang dialami Bunda Maria mendapatkan penebusan dalam sengsara Kristus yang wafat di Salib. Baik Maria maun Yesus, tidak menderita dan berduka sendirian mereka berjalan bersama. Derita dan duka mengambil Nilai tinggi dalam kesatuan dengan Yesus.

Lalu?

Merasakan duka sesama, sejalan dengan usaha membangun empati bagi sesama. Duka dan derita bukanlah akhir segalanya. Di balik sana, Yesus pun berjalan bersama kita.

 

SonyPr

Maria berduka cita